NEWSRBACEH I LHOKSEUMAWE – Yayasan Jaring Inovasi Nanggroe (JINOE) bersama UIN Sultanah Nahrasiyah (UIN SUNA) Lhokseumawe sukses menyelenggarakan Festival Canang Ceureukeuh: Suara Harmoni dari Teluk Samawi, sebuah perhelatan budaya yang bertujuan mengangkat kembali eksistensi Canang Ceureukeuh sebagai warisan budaya khas Kota Lhokseumawe, Selasa (23/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium UIN SUNA Lhokseumawe tersebut diikuti oleh sekitar 500 peserta dari berbagai kalangan, melampaui target awal penyelenggara yang ditetapkan sebanyak 300 peserta.
Melalui rangkaian seminar kebudayaan, dialog budaya kaum muda, hingga pertunjukan seni yang menampilkan kolaborasi berbagai kelompok seni tradisional dan modern, Festival Canang Ceureukeuh menghadirkan ruang edukasi, apresiasi, dan ekspresi budaya yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Kegiatan ini menjadi wadah untuk memperkuat kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga dan mengembangkan warisan budaya lokal di tengah perkembangan zaman.
Festival tersebut juga menjadi salah satu agenda kolaboratif dalam rangka memeriahkan Milad ke-57 UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe. Pembukaan festival ditandai dengan seremoni pemukulan Canang Ceureukeuh dan Rapai oleh unsur pemerintah, akademisi, dan pegiat budaya. Prosesi tersebut menjadi simbol dimulainya rangkaian festival sekaligus mencerminkan semangat kolaborasi dalam upaya pelestarian dan pengembangan warisan budaya khas Lhokseumawe.
Ketua Pembina Yayasan Jaring Inovasi Nanggroe (JINOE), Ramadhan, S.Sos., menyampaikan bahwa Festival Canang Ceureukeuh merupakan bentuk komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya lokal melalui pendekatan yang melibatkan generasi muda.
“Canang Ceureukeuh bukan hanya alat musik tradisional, tetapi juga simbol identitas masyarakat pesisir Teluk Samawi yang menyimpan nilai sejarah, kreativitas, dan kebersamaan. Melalui festival ini, kami ingin membangun ruang edukasi, dialog, dan ekspresi budaya agar generasi muda semakin mengenal, mencintai, dan bangga terhadap warisan budayanya sendiri. Pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui dokumentasi, tetapi harus terus dihidupkan melalui partisipasi masyarakat dan ruang-ruang kreatif yang berkelanjutan,” ujar Ramadhan.
Mewakili Rektor UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama, Dr. Darmadi, S.Sos.I., M.Si., menegaskan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pelestarian dan pengembangan kebudayaan daerah.
“Kampus tidak boleh hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus hadir sebagai ruang pelestarian budaya. Melalui Festival Canang Ceureukeuh ini, UIN SUNA ingin menegaskan komitmennya dalam merawat warisan budaya Aceh sekaligus menyalakan peradaban. Kebudayaan merupakan fondasi penting dalam membangun karakter generasi muda dan memperkuat identitas bangsa di tengah tantangan globalisasi,” ungkap Dr. Darmadi.
Mewakili Wali Kota Lhokseumawe, Sekretaris Daerah Kota Lhokseumawe, A. Haris, S.Sos., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada Yayasan JINOE dan UIN SUNA Lhokseumawe atas penyelenggaraan Festival Canang Ceureukeuh sebagai upaya pelestarian budaya daerah yang melibatkan generasi muda.
“Pemerintah Kota Lhokseumawe menyambut baik pelaksanaan festival ini sebagai bentuk kolaborasi dalam menjaga dan memperkenalkan kekayaan budaya daerah. Pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama agar warisan budaya yang dimiliki dapat terus lestari dan berkembang,” ujar A. Haris.
Dalam seminar yang diselenggarakan pada rangkaian festival tersebut, para pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, akademisi, budayawan, dan pegiat budaya membahas berbagai strategi pelestarian Canang Ceureukeuh, mulai dari penguatan kebijakan dan regulasi, upaya regenerasi pelaku budaya, hingga pengembangan inovasi budaya sebagai langkah menjaga keberlanjutan warisan budaya daerah.
Selain kegiatan seminar, festival juga menghadirkan berbagai pertunjukan seni dan budaya yang menampilkan kekayaan ekspresi budaya Aceh, di antaranya Rapai Rukon, Angga Production, Jihan Fanyra, Beudeubok, Sanggar Panyoet Ceuloet, UKM Gesbika UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, serta Raja Siwah (Rapa-i Geurimpheng) Aceh Utara. Penampilan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ruang apresiasi budaya sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam pelestarian seni dan tradisi daerah.
Keberhasilan penyelenggaraan Festival Canang Ceureukeuh mencerminkan tingginya partisipasi dan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian budaya daerah. Melalui kolaborasi antara komunitas, perguruan tinggi, pemerintah, pelaku seni, dan masyarakat, festival ini diharapkan dapat menjadi momentum penguatan ekosistem kebudayaan sekaligus mendukung upaya pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan objek pemajuan kebudayaan secara berkelanjutan.
Pelaksanaan Festival Canang Ceureukeuh mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan.
Acara pembukaan festival turut dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kota Lhokseumawe, A. Haris, S.Sos., M.Si.; Wakil Ketua Komisi A DPRK Lhokseumawe, Farhan Zuhri Baihaqi, S.Hum., M.Pd.; Kabagren Polres Lhokseumawe, Kompol Anwar, S.H.; budayawan Aceh, Tgk. Yusdedy; serta perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh, Mifta Roma Uli Tua, S.S.
Hadir pula Kepala Bappeda Kota Lhokseumawe, Reza Mahnur, S.STP., M.Kesos.; Kepala Sekretariat Majelis Adat Aceh Kota Lhokseumawe, Shari Anita, S.Sos., M.M.; para dekan dan wakil dekan di lingkungan UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe; perwakilan perangkat daerah Pemerintah Kota Lhokseumawe; serta berbagai unsur masyarakat dan pegiat budaya.







