Search

7 November 2026

Songket Aceh Naik Kelas Berkat Sentuhan AI, Cut Mutia dan Tim Unimal Raih Juara II Business Plan Nasional

Redaksi

Cut Mutia, mahasiswi Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Malikussaleh

NEWSRBACEH I LHOKSEUMAWE  – Warisan budaya Aceh kini mendapat sentuhan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Gagasan digitalisasi pengrajin songket melalui aplikasi TenunTech berhasil mengantarkan tiga mahasiswi Universitas Malikussaleh (Unimal) meraih Juara II dalam kompetisi Business Plan tingkat nasional di Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur.

Prestasi tersebut diraih Cut Mutia, mahasiswi Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Malikussaleh, yang bertindak sebagai ketua tim bersama dua rekannya, Halwa Syauliah dan Fidya Amara Zulma. Ketiganya berasal dari program studi yang sama.

Keberhasilan ini bukan sekadar membawa nama kampus ke tingkat nasional, tetapi juga memperkenalkan potensi songket Aceh melalui pendekatan teknologi yang berorientasi pada pengembangan ekonomi masyarakat.

Kompetisi yang dilaksanakan secara daring tersebut diikuti 35 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Sejumlah kampus yang tercantum sebagai peserta antara lain Universitas Airlangga, Telkom University, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Sebelas Maret, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Bengkulu, Universitas Teuku Umar, hingga Kyungpook National University, Korea Selatan.

Setelah melewati tahapan seleksi dan penilaian, tim TenunTech berhasil menembus lima finalis terbaik dan mengamankan posisi Juara II.

 

TenunTech, Teknologi AI untuk Masa Depan Songket Aceh

Di balik prestasi tersebut, terdapat gagasan yang berangkat dari persoalan nyata pengrajin songket Aceh.

Tim melihat songket bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga memiliki potensi ekonomi tinggi yang perlu dikembangkan. Namun, pengrajin masih menghadapi berbagai tantangan dalam pengelolaan usaha, efisiensi produksi, pengendalian persediaan bahan baku, hingga menjaga kualitas produk.

Dari persoalan tersebut, lahirlah TenunTech, sebuah aplikasi berbasis AI yang dirancang untuk mendukung digitalisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya pengrajin songket khas Aceh.

Aplikasi ini menghadirkan tiga fitur utama. Pertama, AI Trend Forecasting, yang berfungsi memprediksi tren motif dan warna songket sehingga pengrajin dapat menyesuaikan produk dengan perkembangan pasar.

Kedua, AI Inventory Management, untuk membantu mengoptimalkan pengelolaan persediaan bahan baku agar proses produksi lebih efisien.

Ketiga, AI Defect Detection, yang dirancang untuk mendeteksi kecacatan produk sehingga kualitas hasil tenunan dapat lebih terjaga.

Melalui ketiga fitur tersebut, TenunTech diharapkan mampu membantu pengrajin meningkatkan efisiensi produksi, memperluas jangkauan pasar, serta memperkuat daya saing UMKM songket Aceh di tengah perkembangan ekonomi digital.

 

Mahasiswa Hadir dengan Solusi untuk Ekonomi Masyarakat

Bagi Cut Mutia dan tim, keberhasilan meraih Juara II bukan semata-mata tentang penghargaan. Lebih dari itu, kompetisi tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi daerah sekaligus menghadirkan gagasan yang diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sebagai mahasiswa Administrasi Publik, Cut Mutia memandang pemberdayaan UMKM sebagai salah satu bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

TenunTech menjadi bentuk kontribusi mahasiswa dalam mempertemukan tiga aspek penting, yakni pemanfaatan teknologi, pelestarian warisan budaya, dan pemberdayaan ekonomi lokal.

Kompetisi tersebut menghadirkan tiga dewan juri profesional, yaitu Dr. Ir. Muriani Emelda Isharyani, S.T., M.T., IPM.; Ir. Theresia Amelia Pawitra, S.T., M.Sc., M.Eng., IPU., ASEAN Eng.; dan Nidya Listiyono, S.E., M.E.

Keberhasilan menempati posisi kedua menjadi kebanggaan tersendiri bagi tim karena mampu membawa nama Universitas Malikussaleh dan Provinsi Aceh dalam persaingan gagasan bisnis tingkat nasional.

Prestasi ini diharapkan menjadi langkah awal pengembangan TenunTech agar tidak berhenti sebagai gagasan dalam kompetisi, tetapi dapat diwujudkan menjadi solusi digital yang memberikan manfaat nyata bagi UMKM pengrajin songket Aceh.

Dari Aceh untuk Indonesia, Cut Mutia bersama tim menunjukkan bahwa warisan budaya lokal tidak harus tertinggal oleh perkembangan zaman. Dengan inovasi dan pemanfaatan teknologi, songket Aceh memiliki peluang untuk terus berkembang, mempertahankan nilai budayanya, sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas.

Iklan Iklan
Iklan adv
Iklan iklan
Iklan Iklan
Iklan HUT ke 4

Trending