Kita kembali diingatkan pada makna kemerdekaan. Bendera merah putih dikibarkan, dan lagu kebangsaan dinyanyikan. Ada satu pertanyaan yang menurut saya penting untuk direnungkan sudahkah kemerdekaan benar-benar dirasakan oleh semua? Pertanyaan itu terasa lebih dekat bagi saya setelah terlibat dalam respons dan pendampingan relawan ketika banjir melanda sejumlah wilayah di Sumatra, termasuk Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan beberapa daerah lainnya.
Saat itu, perhatian banyak pihak tertuju pada bagaimana membantu masyarakat melewati masa darurat. Bantuan logistik disalurkan, kebutuhan dasar dipenuhi, dan berbagai elemen masyarakat bergerak bersama. Namun, kini sudah sembilan bulan berlalu sejak banjir tersebut. Air telah lama surut, tetapi apakah seluruh keluarga telah benar-benar pulih? Pertanyaan ini penting karena pemulihan tidak selalu terlihat dari sesuatu yang tampak secara fisik.

Rumah yang sudah dibersihkan atau diperbaiki belum tentu berarti sebuah keluarga telah kembali pada kehidupan sebelumnya. Ada keluarga yang masih berusaha memulihkan sumber penghasilan. Ada yang harus mengganti barang-barang yang hilang atau rusak. Ada anak yang mungkin masih menghadapi perubahan dalam rutinitas belajar dan kehidupan sehari-hari. Ada pula orang tua yang harus bangkit dari tekanan ekonomi sekaligus memastikan anak-anak tetap mendapatkan pengasuhan yang baik.
Sembilan bulan setelah bencana seharusnya menjadi momentum untuk melihat lebih jauh bukan lagi sekadar berapa banyak bantuan yang telah diberikan, tetapi seberapa jauh keluarga telah kembali berdaya. Dari pengalaman berada di tengah masyarakat terdampak, saya mulai melihat bencana bukan hanya sebagai persoalan kerusakan fisik, tetapi juga sebagai persoalan keluarga.
Sebagai mahasiswa S2 Ilmu Keluarga dan Perkembangan Anak di IPB University serta pemuda asli daerah Aceh, saya belajar bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi tumbuh kembang anak. Di dalam keluarga, anak memperoleh pengasuhan, rasa aman, pendidikan, nilai, serta dukungan untuk berkembang.
Ketika keluarga mengalami krisis, maka kehidupan anak pun ikut terdampak. Karena itu, pemulihan pascabencana seharusnya tidak berhenti ketika rumah kembali berdiri atau bantuan darurat selesai disalurkan. Kita perlu melihat bagaimana keluarga menjalankan kembali fungsi kehidupannya.
Apakah orang tua sudah memiliki sumber penghasilan yang lebih stabil? Apakah anak-anak sudah kembali memperoleh ruang yang aman untuk belajar dan bermain? Apakah keluarga memiliki akses terhadap layanan pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, dan dukungan pengasuhan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting karena anak sering kali menjadi salah satu kelompok yang rentan dalam situasi bencana. Mereka mungkin belum mampu memahami sepenuhnya apa yang terjadi, tetapi mereka merasakan perubahan besar dalam kehidupannya.
Rumah yang rusak, lingkungan yang berubah, sekolah yang terganggu, kehilangan barang kesayangan, hingga melihat orang tua berada dalam tekanan dapat menjadi pengalaman yang memengaruhi keseharian dan perkembangan mereka. Sembilan bulan kemudian, kebutuhan anak juga tidak berhenti pada bantuan yang bersifat material. Anak membutuhkan keberlanjutan rasa aman, rutinitas, kesempatan belajar dan bermain, serta kehadiran orang dewasa yang mampu memberikan dukungan emosional.
Di sisi lain, orang tua juga membutuhkan dukungan untuk kembali menjalankan perannya. Ketika sumber penghasilan keluarga hilang atau terganggu akibat bencana, tekanan ekonomi dapat memengaruhi kondisi psikologis, relasi antaranggota keluarga, hingga kualitas pengasuhan.
Karena itu, pemulihan ekonomi keluarga sesungguhnya juga merupakan bagian dari investasi terhadap perkembangan anak. Inilah mengapa pendekatan berbasis keluarga penting dalam pembangunan pascabencana. Keluarga tidak seharusnya hanya dipandang sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai subjek utama dalam proses pemulihan. Mereka memiliki pengetahuan mengenai kebutuhannya sendiri, memiliki kekuatan untuk bangkit, dan memiliki jejaring sosial yang selama ini menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai persoalan.
Pengalaman mendampingi relawan di Aceh Tamiang dan Aceh Utara memperlihatkan kepada saya bahwa masyarakat Aceh memiliki kekuatan gotong royong yang luar biasa. Di tengah keterbatasan, selalu ada orang yang memilih hadir.
Ada relawan yang datang membawa tenaga, masyarakat yang membantu tetangganya, komunitas yang mengumpulkan bantuan, serta berbagai pihak yang bergerak bersama untuk memastikan warga tidak menghadapi bencana seorang diri. Namun, gotong royong tidak boleh berhenti pada masa tanggap darurat. Semangat tersebut perlu diteruskan menjadi kekuatan untuk membangun kembali kehidupan masyarakat dalam jangka panjang. Bagi saya, di sinilah semangat kemerdekaan menemukan maknanya. Kemerdekaan tidak hanya berarti terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti memiliki kesempatan untuk hidup dengan aman, layak, bermartabat, berdaya, dan memiliki masa depan.
Seorang anak yang dapat kembali belajar dengan aman adalah bagian dari kemerdekaan. Orang tua yang dapat kembali bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarganya adalah bagian dari kemerdekaan. Keluarga yang mampu kembali merencanakan masa depan setelah kehilangan adalah bagian dari kemerdekaan.
Karena itu, momentum kemerdekaan seharusnya tidak hanya mengajak kita mengingat sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga melihat perjuangan masyarakat hari ini. Termasuk keluarga-keluarga yang sembilan bulan lalu kehilangan rumah, harta benda, sumber penghasilan, atau rasa aman akibat bencana.
Pembangunan pascabencana harus menjadi kesempatan untuk build back better membangun kembali dengan lebih baik. Artinya, kita tidak hanya mengembalikan kondisi seperti sebelum bencana, tetapi juga memperkuat hal-hal yang sebelumnya masih rentan ketahanan ekonomi keluarga, kapasitas pengasuhan orang tua, perlindungan anak, akses pendidikan dan kesehatan, serta dukungan sosial di tingkat masyarakat.
Dalam proses tersebut, pemerintah, perguruan tinggi, lembaga kemanusiaan, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat perlu berjalan bersama. Pemerintah memastikan kebijakan dan layanan pemulihan hadir secara berkelanjutan. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui riset, pendampingan, dan pengembangan program berbasis bukti. Lembaga kemanusiaan dan komunitas dapat terus memperkuat kapasitas masyarakat. Sementara keluarga dan masyarakat harus ditempatkan sebagai bagian utama dalam menentukan bentuk pemulihan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Bagi saya, pengalaman berada di tengah respons bencana Aceh memberikan pelajaran bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas ruang. Ketika sebagian saudara kita kehilangan rumah, kehilangan sumber penghasilan, atau harus memulai kembali kehidupannya dari nol, persoalan tersebut bukan hanya persoalan mereka. Ia menjadi tanggung jawab bersama sebagai sesama warga negara.
Sebagai mahasiswa Ilmu Keluarga dan Perkembangan Anak, pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan saya bahwa pembangunan bangsa harus dimulai dari keluarga. Keluarga yang kuat memberikan lingkungan yang lebih baik bagi anak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan suportif akan menjadi bagian dari generasi yang mampu membawa Indonesia ke masa depan. Maka, kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada upacara dan perayaan setiap 17 Agustus.
Kemerdekaan harus hadir dalam kehidupan sehari-hari ketika seorang anak dapat kembali belajar dengan aman, ketika seorang ibu dapat kembali merasa tenang, ketika seorang ayah dapat kembali bekerja, ketika sebuah keluarga mampu kembali merencanakan masa depannya, dan ketika masyarakat memiliki kesempatan yang adil untuk bangkit setelah bencana. Sebab Indonesia yang merdeka bukan hanya Indonesia yang bebas dari penjajahan.
Indonesia yang merdeka adalah Indonesia yang memastikan setiap warganya memiliki kesempatan untuk hidup aman, berdaya, bermartabat, dan menatap masa depan. Sembilan bulan setelah banjir, mungkin air memang telah surut.
Tetapi bagi sebagian keluarga, perjalanan untuk benar-benar pulih masih berlangsung. Dan selama masih ada keluarga yang berjuang untuk kembali berdiri, semangat kemerdekaan seharusnya tidak hanya kita rayakan, tetapi kita hadirkan melalui kepedulian, keberpihakan, dan kerja nyata. Karena pada akhirnya, kemerdekaan bukan tentang siapa yang paling cepat bangkit, melainkan tentang memastikan tidak ada satu pun keluarga yang dibiarkan bangkit sendirian. Itulah makna kemerdekaan untuk semua.
Syarifah Zahra Salsabila
Mahasiswa S2 Ilmu Keluarga dan Perkembangan Anak IPB University
Community Engagement & Social Impact TurunTangan







