NEWSRBACEH I BENER MERIAH – Perjalanan KKN Tematik di Desa Lampahan Timur menjadi pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. 26 November 2025, ketika Indonesia dilanda berbagai bencana hidrometeorologi tepatnya di Aceh, saya bersama beberapa mahasiswa dari universitas ditunjuk untuk mengikuti kegiatan KKN tematik di daerah terdampak.
Tempat pengabdian kami berada di Desa Lampahan Timur, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, sebuah desa yang dikelilingi pegunungan dan udara yang sangat sejuk.

Perjalanan menuju desa itu terasa begitu panjang. Di sepanjang jalan, bekas longsor masih terlihat jelas. Tanah merah menutupi sebagian sisi jalan, sementara aliran sungai yang berasal dari pegunungan tampak keruh dan deras akibat hujan yang terus mengguyur wilayah tersebut. Masyarakat bercerita bahwa air sungai sempat meluap hingga mendekati rumah warga. Bencana itu membuat sebagian aktivitas warga terganggu, tetapi semangat mereka tetap kuat.
29 Desember 2025 adalah hari pertama KKN kami, yang dipenuhi kegiatan membantu masyarakat dan mengamati kondisi lingkungan sekitar. Di sela-sela mengikuti kegiatan yang berada di dalam lingkungan masyarakat kami melihat satu titik yang berbeda. Ada satu tempat yang paling membekas di hati saya, yaitu ujung desa yang berada di kaki Gunung Burni Telong.
Dari tempat itu, keindahan alam terlihat begitu luar biasa. Gunung berdiri megah dengan kabut tipis yang menyelimuti puncaknya. Udara dingin menusuk kulit, tetapi suasananya menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Saya sempat berpikir bahwa alam memang memiliki dua sisi yakni keindahan dan kekuatan.
Namun, ketenangan itu berubah menjadi ketegangan pada malam pertama kami berada di sana. Saat kami sedang beristirahat, tiba-tiba tanah terasa bergetar. Gempa kecil dari arah gunung membuat suasana desa mendadak panik. Saya dan kawan-kawan bergegas keluar mencari tempat yang aman. Beberapa warga keluar rumah untuk memastikan keadaan aman. Saat itulah kami mengetahui bahwa aktivitas gunung meningkat dan statusnya telah memasuki level siaga. Jantung saya berdegup cepat. Perasaan takut bercampur kagum memenuhi pikiran saya malam itu.
Meski demikian, pengalaman tersebut justru memberi pelajaran berharga bagi saya. Saya belajar bahwa hidup berdampingan dengan alam membutuhkan kesiapan, keberanian, dan rasa syukur. Masyarakat Desa Lampahan Timur mengajarkan arti ketabahan dalam menghadapi bencana. Di tengah ancaman longsor, luapan sungai, dan aktivitas gunung, mereka tetap menjalani kehidupan dengan penuh harapan.
KKN tematik itu bukan sekadar program pengabdian bagi saya. Perjalanan tersebut menjadi cerita tentang keberanian, kebersamaan, dan pelajaran hidup yang akan selalu saya ingat sepanjang waktu.
Penulis : Selva Meilani Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala







