Search

23 Agustus 2026

Dari Trauma Kembali Ceria, Bunda PAUD Lhokseumawe Dampingi 200 Anak Bangkit Pascabencana

Redaksi

Bunda PAUD Kota Lhokseumawe, Ny. Yulinda Sayuti

NEWSRBACEH I LHOKSEUMAWE — Tawa dan keceriaan kembali memenuhi Aula Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kota Lhokseumawe, Sabtu (22/8/2026). Lebih dari 200 anak usia dini bersama orang tua dan pendamping mengikuti kegiatan Trauma Healing dan Dukungan Psikososial Pascabencana yang digelar sebagai bagian dari penguatan Pendidikan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI).

Total peserta yang hadir mencapai sekitar 500 orang. Namun, kegiatan tersebut bukan sekadar menghadirkan permainan dan hiburan bagi anak-anak. Di balik lomba mewarnai, dongeng, hingga edukasi kesehatan gigi, terselip pesan penting: pemulihan anak setelah bencana membutuhkan perhatian yang lebih luas dari sekadar kembali ke ruang kelas.

Bunda PAUD Kota Lhokseumawe, Ny. Yulinda Sayuti, menilai kondisi psikologis anak usia dini perlu mendapat perhatian serius setelah mereka menghadapi situasi bencana.

Menurutnya, anak-anak membutuhkan ruang yang aman untuk kembali merasakan suasana bermain, belajar, tertawa, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

“Anak-anak membutuhkan ruang yang aman untuk kembali bermain, tertawa, belajar, dan berinteraksi. Setelah menghadapi situasi bencana, perhatian terhadap kondisi psikologis mereka menjadi sangat penting. Ini yang ingin kita hadirkan melalui kegiatan hari ini,” ujar Yulinda.

 

Bukan Sekadar Bermain

Kegiatan trauma healing dikemas dengan pendekatan yang dekat dengan dunia anak. Lomba mewarnai menjadi salah satu ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri, sementara sesi mendongeng bersama Kak Wahyu menghadirkan suasana yang menyenangkan sekaligus membangun interaksi.

Anak-anak juga mendapatkan edukasi kesehatan gigi sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan tumbuh kembang mereka secara menyeluruh.

Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep PAUD Holistik Integratif yang tidak hanya menempatkan pendidikan sebagai kebutuhan utama anak, tetapi juga memperhatikan kesehatan, perlindungan, pengasuhan, serta kondisi psikososial.

Yulinda menegaskan, proses pemulihan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada lembaga pendidikan. Peran keluarga dan lingkungan sekitar sangat menentukan dalam menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi anak.

“PAUD HI adalah kerja bersama. Pendidikan, kesehatan, perlindungan, pengasuhan, dan dukungan psikososial harus berjalan beriringan,” katanya.

 

Orang Tua Jadi Bagian Penting Pemulihan

Kehadiran orang tua dan pendamping dalam kegiatan tersebut juga menjadi bagian penting dari upaya membangun kembali rasa aman anak.

Menurut Yulinda, dukungan terhadap anak harus berlanjut setelah kegiatan selesai. Pola pengasuhan positif di rumah, perhatian terhadap kesehatan, serta perlindungan anak menjadi fondasi yang tidak kalah penting.

“Dengan kolaborasi ini, kita ingin memastikan anak-anak Lhokseumawe dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, nyaman, dan menyenangkan,” ujarnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Kota Lhokseumawe, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe, Ketua BKMT Kota Lhokseumawe, Ketua DWP Kota Lhokseumawe, Pimpinan PDGI Wilayah Aceh Utara-Lhokseumawe, perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe, pimpinan HIMPAUDI Lhokseumawe, pimpinan IGTKI Lhokseumawe, Pokja Bunda PAUD, Bunda PAUD Kecamatan, serta sejumlah unsur terkait lainnya.

Melalui kegiatan tersebut, Bunda PAUD Kota Lhokseumawe mendorong agar penguatan PAUD HI tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan bersama yang dilakukan secara berkelanjutan, khususnya dalam mendampingi anak-anak yang terdampak situasi pascabencana.

Sebab, bagi anak usia dini, pemulihan bukan hanya tentang kembali belajar. Pemulihan juga berarti kembali berani bermain, kembali tersenyum, dan kembali merasa bahwa dunia di sekelilingnya adalah tempat yang aman.