NEWSRBSCEH I ACEH UTARA – Bukan sekadar suara tabuhan. Dentuman puluhan Rapa’i Pase akan menjadi suara yang membawa semangat delapan abad perjalanan Aceh Utara.
Sebanyak 50 penabuh Rapa’i Pase atau Rapa’i Gantung dipastikan tampil di arena Piasan Pase, Lapangan Landing, Lhoksukon, Senin (7/9/2026) malam. Mereka akan menjadi salah satu pertunjukan utama dalam rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-800 Aceh Utara.
Pertunjukan kolosal tersebut akan semakin semarak dengan kolaborasi serune kalee dan 50 penari Ratoeh Jaroe. Dentuman Rapa’i, lengkingan musik tradisional, serta gerakan dinamis para penari akan berpadu dalam satu panggung yang sarat dengan identitas budaya Aceh.
Kesiapan para seniman telah terlihat sejak gladi di arena utama Piasan Pase, Minggu (6/9/2026) sore. Para penabuh dan penari tampak serius menyelaraskan tempo, gerakan dan formasi agar pertunjukan berlangsung kompak saat malam pembukaan.
Bagi para pemain, Rapa’i Pase bukan sekadar alat musik tradisional. Instrumen berukuran besar itu merupakan salah satu ikon kesenian Aceh yang memiliki karakter suara khas dan mampu menghadirkan dentuman kuat.
Yusuf, salah seorang pemain Rapa’i Pase dari Grup Rapa’i Pase Mulieng, Gampong Tanjong, Kecamatan Syamtalira Aron, mengatakan ukuran Rapa’i Pase menjadi salah satu faktor yang membuat suara instrumen tersebut begitu kuat.
“Rapa’i Pase memiliki ukuran cukup besar sehingga suara yang dihasilkan juga sangat kuat,” ujar Yusuf saat mengikuti gladi.
Ia menjelaskan, diameter permukaan Rapa’i Pase berkisar 16 hingga 17 inci dengan kedalaman sekitar 30 hingga 40 sentimeter. Berat satu instrumen bahkan dapat mencapai 35 hingga 40 kilogram.
Baloh atau badan Rapa’i Pase dibuat menggunakan kayu tualang, sementara bagian permukaan yang ditabuh menggunakan kulit sapi. Kombinasi tersebut menghasilkan karakter suara yang keras, berat dan bergema.
Dalam satu grup, kata Yusuf, biasanya terdapat sekitar 25 hingga 30 pemain. Karena itu, kekompakan menjadi kunci utama. Kesalahan tempo satu pemain saja dapat memengaruhi keselarasan keseluruhan pertunjukan.
“Yang paling penting kekompakan dan ketepatan tempo agar pukulannya terdengar serentak,” jelasnya.
Menariknya, di sela-sela gladi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara, Dr. Jamaluddin, turut mencoba langsung menabuh Rapa’i Pase.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui seremoni. Mengenalkan langsung karakter dan beratnya alat musik tradisional kepada generasi sekarang juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesenian agar tidak kehilangan tempat di tengah perkembangan zaman.
Malam nanti, 50 penabuh Rapa’i Pase akan berhadapan dengan panggung besar dan ribuan pasang mata. Bersama serune kalee dan 50 penari Ratoeh Jaroe, mereka diharapkan menjadi magnet utama bagi masyarakat yang datang menyaksikan Piasan Pase.
Lebih dari sekadar pertunjukan, kolaborasi tersebut menjadi cara untuk menghadirkan kembali denyut budaya Aceh dalam peringatan 800 tahun Aceh Utara.
Jika sejarah mencatat Samudera Pasai sebagai salah satu pusat peradaban besar di masa lalu, maka dentuman Rapa’i Pase malam ini menjadi salah satu cara generasi sekarang mengingatkan bahwa warisan itu masih hidup ditabuh, dimainkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.







