Search

2 Juni 2026

Pacu Kuda Tradisional Gayo, Warisan Budaya Aceh Tengah yang Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi

Redaksi

Miftahul Hadi Departemen Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala

Bagi saya, pulang ke kampung halaman yakni Takengon Adalah hal yang paling di tunggu tunggu Ketika waktu libur, karena Ketika di perantauan ada rasa rindu yang cukup mendalam kepada orang tua,serta teman teman yang ada di kampung halaman saya.

Tetapi, ketika sampai di kampung halaman, rasa rindu itu terbayar karena bisa menemui mereka semua. Itu adalah hal yang indah ketika berkumpul bersama keluarga serta teman-teman. Haii saya Miftahul Hadi ingin cerita sedikit tentang tradisi kami yakni pacu kuda.

Di dataran tinggi Takengon yang dikelilingi pegunungan hijau dan udara yang sejuk, masyarakat Gayo memiliki sebuah tradisi yang selalu dinanti setiap tahunnya, yaitu pacu kuda tradisional. Perlombaan ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari budaya yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Gayo.

Biasanya, Pacu Kuda bisa dilaksanakan setahun 2 kali, yakni di hari ulang tahun Takengon dan di bulan 8. Ketika Pacu Kuda diadakan, suasana kota menjadi lebih ramai. Orang-orang datang dari berbagai kampung untuk menyaksikan kuda-kuda terbaik berlaga di arena.

Sejak pagi hari, lapangan pacuan sudah dipenuhi penonton. Suara pedagang, tawa anak-anak, dan bunyi langkah kaki kuda bercampur menjadi satu. Di tepi arena, para pemilik kuda sibuk mempersiapkan kudanya masing-masing.

Kuda-kuda itu dihias dengan kain berwarna cerah dan tampak gagah ketika berjalan menuju lintasan. Tradisi pacu kuda di Takengon memiliki keunikan tersendiri karena banyak joki yang masih berusia anak-anak. Walaupun masih muda, mereka sangat berani dan terampil mengendalikan kuda yang berlari dengan cepat.

Di antara para peserta, ada seorang anak bernama Ilham yang mengikuti perlombaan untuk pertama kalinya. Ia berasal dari sebuah kampung kecil di Aceh Tengah. Sejak kecil, Ilham sering membantu ayahnya merawat seekor kuda bernama Bintang Gayo.

Kuda itu terkenal kuat dan lincah. Setiap sore, Ilham berlatih menunggangi kuda di padang rumput dekat rumahnya. Meskipun merasa gugup, ia tetap percaya diri karena ingin membanggakan keluarganya.

Ketika perlombaan dimulai, suara sorakan penonton menggema di seluruh arena. Kuda-kuda berlari sangat cepat sambil menghamburkan debu di lintasan tanah. Ilham menggenggam erat tali kendali dan terus fokus ke depan. Bintang Gayo berlari dengan penuh semangat, menyalip satu demi satu lawannya. Ayah Ilham yang berdiri di pinggir arena terus memberi semangat sambil berdoa agar anaknya tetap selamat.

Menjelang garis akhir, persaingan semakin ketat. Semua penonton berdiri dan berteriak menyebut nama joki favorit mereka. Dengan keberanian dan latihan yang selama ini dijalani, Ilham akhirnya berhasil mencapai garis finis di posisi pertama. Sorak gembira langsung memenuhi arena. Ayahnya memeluk Ilham dengan bangga, sementara masyarakat kampung ikut merayakan kemenangan itu.

Bagi masyarakat Gayo, pacu kuda bukan hanya tentang kemenangan. Tradisi ini menjadi simbol persaudaraan, keberanian, dan kebersamaan masyarakat. Pacu kuda juga menjadi cara untuk melestarikan budaya daerah agar tetap dikenal oleh generasi muda. Di tengah perkembangan zaman modern, masyarakat Takengon tetap menjaga tradisi ini sebagai bagian penting dari identitas budaya mereka.

Hingga matahari mulai tenggelam di balik pegunungan Takengon, suasana arena masih terasa hangat dan meriah. Anak-anak berlarian sambil menirukan gaya para joki, sedangkan orang-orang dewasa berbincang tentang perlombaan hari itu. Tradisi pacu kuda di tanah Gayo pun terus hidup, membawa kebanggaan dan cerita yang akan dikenang dari generasi ke generasi.

Penulis :

Miftahul Hadi Departemen Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala