Search

2 Mei 2026

Dukung Pemajuan Kebudayaan di Kota Lhokseumawe, Yayasan JINOE Siap Gelar Festival Canang Ceureukeh

Redaksi

Dukung Pemajuan Kebudayaan di Kota Lhokseumawe, Yayasan JINOE Siap Gelar Festival Canang Ceureukeh

NEWSRBACEH I LHOKSEUMAWE – Upaya pelestarian budaya lokal di Aceh tidak hanya dilakukan melalui pertunjukan seni, tetapi juga lewat ruang-ruang diskusi yang melibatkan generasi muda. Yayasan Jaring Inovasi Nanggroe (JINOE) akan menggelar Festival Canang Ceureukeh: Suara Harmoni dari Teluk Samawi pada Mei hingga Juni 2026 di Kota Lhokseumawe.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Dana Indonesiana yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), setelah Yayasan JINOE lolos melalui proses seleksi nasional yang ketat.

Sebagaimana diketahui, Canang Ceureukeh merupakan alat musik khas dari Lhokseumawe yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2022. Penetapan ini menjadi dasar penting dalam upaya pelestarian dan pengembangan nilai-nilai budaya lokal secara berkelanjutan.

Berbeda dari festival budaya pada umumnya, kegiatan ini menitikberatkan pada seminar dan dialog budaya kaum muda sebagai ruang edukasi dan pertukaran gagasan terkait pelestarian Canang Ceureukeh.

Seminar publik akan menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, praktisi budaya, serta pemangku kepentingan untuk membahas nilai historis, tantangan pelestarian, hingga strategi keberlanjutan Canang Ceureukeh di tengah perubahan zaman.

Sementara itu, dialog budaya kaum muda dirancang sebagai forum partisipatif yang melibatkan pelajar dan generasi muda untuk menyampaikan pandangan, ide, serta peran mereka dalam menjaga warisan budaya. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran sekaligus mendorong keterlibatan aktif generasi muda dalam pelestarian budaya lokal.

Secara keseluruhan, sekitar 500 peserta ditargetkan terlibat dalam kegiatan ini, yang terdiri dari pelajar, komunitas seni, akademisi, serta masyarakat umum. Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan seniman dan pengrajin tradisional, pemerintah daerah, serta media massa sebagai bagian dari kolaborasi lintas sektor dalam pemajuan kebudayaan.

Program Manager Yayasan JINOE, Teuku Yasril Izza Umara Muly, menegaskan bahwa pendekatan berbasis dialog menjadi kunci dalam membangun kesadaran budaya yang berkelanjutan.

“Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menampilkan, tetapi harus dipahami dan didiskusikan. Karena itu, kami mendorong keterlibatan generasi muda melalui ruang-ruang dialog yang terbuka,” ujar pria yang diakrab dipanggil Aci ini saat ditemui pada Sabtu, 2 Mei 2026.

Ia menambahkan, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan gagasan dan komitmen bersama dalam menjaga keberlanjutan Canang Ceureukeh.

“Kami ingin generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi bagian dari solusi dalam pelestarian budaya,” lanjutnya.

Yayasan JINOE juga mengajak seluruh elemen, mulai dari pemerintah daerah, komunitas, akademisi, hingga masyarakat luas untuk memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan ini.

“Dukungan semua pihak sangat penting agar upaya pemajuan kebudayaan dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberi dampak nyata bagi daerah,” tutup Aci.