Search

23 April 2026

Dari Luka ke Karya: Perempuan Tangguh Bangkit Lewat Kakao dan UMKM

Redaksi

Dari Luka ke Karya: Perempuan Tangguh Bangkit Lewat Kakao dan UMKM

NEWSRBACEH I ACEH UTARA — Perempuan kini tidak lagi sekadar dipandang sebagai pengurus rumah tangga. Di tengah berbagai keterbatasan, banyak dari mereka justru tampil sebagai tulang punggung keluarga, membuktikan bahwa ketangguhan mampu mengalahkan stigma. Kisah-kisah perjuangan ini menjadi potret nyata bahwa pemberdayaan perempuan berjalan seiring dengan upaya pengentasan kemiskinan.

Di Gampong Blang Pante, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara, sosok Nurhasanah menjadi cermin kekuatan tersebut. Setiap hari sejak pagi hingga petang, ia menyusuri jalan setapak menuju kebun kakao, merawat harapan yang pernah hampir padam Kamis 23 April 2026.

“Dulu kami tidak tahu cara menanam yang benar. Hasil panen tidak menentu dan kualitasnya rendah,” kenangnya.

Sebagai perempuan kepala keluarga, hidup tidak selalu mudah bagi Nurhasanah. Ia kehilangan suaminya dalam konflik bersenjata saat anaknya masih kecil. Demi bertahan, ia melakukan berbagai pekerjaan kasar—mulai dari buruh tani hingga memanggul batu di sungai—semata agar dapur tetap mengepul.

Namun, keadaan mulai berubah ketika ia bergabung dalam program pemberdayaan Kelompok Tani Kepala Rumah Tangga yang difasilitasi Pertamina Hulu Energi. Bersama kelompok perempuan “Inong Balee”, ia mendapatkan pelatihan teknik budidaya dan peremajaan tanaman kakao.

“Sekarang kami diajarkan cara bertani yang baik. Hasilnya jauh lebih meningkat,” ujarnya dengan senyum.

Program tersebut berhasil merestorasi empat hektar lahan kritis, menanam ratusan bibit baru, serta merevitalisasi ribuan pohon kakao. Dampaknya pun nyata: produksi yang sebelumnya hanya sekitar satu kilogram per pohon kini meningkat menjadi tiga hingga lima kilogram, dengan kualitas yang lebih baik.

Semangat serupa juga tumbuh di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Sabariah bersama kelompok UMKM Kuliner Maju Bersama mengubah keterbatasan menjadi peluang. Mereka mengolah ikan baronang—yang sebelumnya hanya digunakan sebagai pakan ternak—menjadi cemilan bergizi bernilai jual tinggi.

Melalui dukungan Pertamina Hulu Rokan, para ibu rumah tangga mendapatkan pelatihan pengolahan makanan hingga pengembangan usaha.

“Program ini membantu kami memiliki keterampilan dan penghasilan sendiri,” kata Sabariah.

Kini, usaha tersebut mampu menghasilkan hingga jutaan rupiah setiap bulan. Tak hanya meningkatkan ekonomi keluarga, produk olahan mereka juga berkontribusi dalam menekan risiko stunting melalui makanan bergizi.

Manager Community Involvement and Development (CID) PHR Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menjelaskan bahwa program pemberdayaan ini dirancang untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat, khususnya perempuan.

“Peningkatan kapasitas dan ekonomi diharapkan mampu membawa perubahan positif, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga lingkungan sekitar,” ujarnya.

Kisah Nurhasanah dan Sabariah menjadi bukti bahwa di balik keterbatasan, selalu ada peluang untuk bangkit. Dengan dukungan yang tepat dan semangat yang tak padam, perempuan mampu mengubah luka menjadi kekuatan, serta menghadirkan harapan baru bagi generasi mendatang.