Bagi saya, pulang ke kampung halaman setelah lelahnya memainkan peran sebagai mahasiswa di perantauan biasanya selalu punya rasa hangat. Ada rindu yang terbayar, dan tenang yang sulit dijelaskan. Tapi kali ini berbeda. Perjalanan pulang menuju Bener Meriah justru terasa seperti melihat luka yang belum sempat sembuh lalu dipaksa kembali terbuka.
Jalanan yang dulu seperti lorong hijau yang menyenangkan kini berubah menjadi pemandangan yang penuh luka. Tebing-tebing runtuh menyisakan tanah merah yang menganga, akar pohon terjulur seakan kehilangan pijakan, dan badan jalan yang terputus membuat perjalanan terasa terhenti di tengah harapan.
Saya sempat berpikir, ini benar sudah empat bulan sejak banjir terakhir? Atau sebenarnya waktu di sini berhenti, tidak pernah betul-betul berjalan?
Empat bulan telah berlalu sejak bencana sebelumnya terjadi. Dalam hitungan waktu, empat bulan harusnya cukup untuk sekedar menata kembali kehidupan, meskipun tentu tidak langsung sempurna.
Namun, ketika air sungai kembali melupa, ada kesan bahwa waktu empat bulan tidak pernah benar-benar ada. Seolah-olah masyarakat dipaksa kembali ke titik awal, mengulang letih yang sama, menanggung kerugian yang bahkan mungkin belum tergantikan sepenuhnya.
Dan di titik ini, banjir tidak lagi dipandang sekadar persoalan genangan air.
Ia menjadi semacam memori yang mampu menggugah segala kekhawatiran. Air tidak hanya masuk ke rumah warga, tetapi juga masuk ke ingatan mereka. Mengetuk kembali rasa cemas, kehilangan, dan ketidakpastian. Ada luka yang sebenarnya belum kering, tapi sudah harus basah lagi. Ada tekanan yang jarang terlihat, tapi nyata dirasakan. Rasa tidak aman, rasa lelah, bahkan mungkin rasa pasrah yang tidak sengaja tumbuh.
Di sisi lain, permasalahan infrastuktur menunjukkan wajah lain dari persoalan ini. Jalanan rusak yang sejak awal menjadi akses vital bagi masyarakat, sampai saat ini belum sepenuhnya tertangani. Ketika banjir kembali datang, jalan-jalan itu kembali terputus sebab diseret paksa oleh air. Siklus yang sama terus berulang, tanpa ada perubahan yang berarti.
Segudang pertanyaan seketika muncul. Sebenarnya di mana letak masalahnya? Apakah ini semata-mata karena faktor alam, atau ada hal lain yang luput dari perhatian? Infrastruktur jalan yang sampai sekarang belum tersentuh perbaikan secara menyeluruh terasa seperti bukti bahwa pemulihan belum menjadi prioritas yang serius.
Padahal, jalan bukan hanya soal akses. Jalan adalah penghubung kehidupan, untuk sekolah, bekerja, bahkan sekadar memastikan bantuan bisa sampai.
Memang tidak bisa dipungkiri, pemulihan pascabencana bukan perkara mudah. Banyak faktor yang memengaruhi, mulai dari kondisi geografis hingga keterbatasan sumber daya. Namun, justru karena bencana ini berulang, seharusnya ada pembelajaran yang lebih serius yang bis akita ambil. Bukan hanya bagaimana menanggulangi setelah terjadi, tetapi bagaimana mengurangi dampaknya ketika ia datang kembali.
Mungkin yang paling menyakitkan bukan hanya bencananya, tetapi rasa seperti dibiarkan terlalu lama. Seolah-olah masyarakat diminta untuk bertahan sendiri, beradaptasi sendiri, dan menerima keadaan sebagai sesuatu yang “sudah biasa”. Padahal seharusnya tidak.
Bener Meriah bukan sekadar lokasi bencana. Ia menjadi refleksi tentang bagaimana sebuah wilayah berhadapan dengan krisis yang berulang, dan bagaimana respons terhadap krisis itu menentukan masa depan warganya. Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya infrastruktur atau kerugian materi. Ada sesuatu yang lebih mendasar, rasa aman, kepercayaan, dan keyakinan bahwa keadaan bisa benar-benar membaik.
Tulisan ini bukan untuk menyalahkan, tetapi lebih kepada curahan kegelisahan. Dari banyaknya harapan yang tersimpan, ada harapan sederhana yang mampu meringakan beban. Jalan yang bisa dilalui dengan aman, rumah yang tidak lagi kebanjiran, dan perasaan bahwa ketika bencana datang, masyarakat tidak sendirian.







