Search

2 September 2026

Menyudahi Romantisme Kedaulatan Semu: Mengembalikan Arah Perjuangan Daerah pada Kerja Nyata dan Keutuhan Bangsa

Redaksi

Teuku Mahadiradja Rizki El-Sinki Pemerhati Sosial Dan Budaya Untuk Aceh dan Nusantara

NEWSRBACEH I BANDA ACEH — Diskursus soal kedaulatan, identitas, dan posisi daerah sering kali ditarik-tarik lagi ke dalam pusaran kenangan masa lalu. Merawat akar budaya dan sejarah tentu penting, tapi kalau kita terus-menerus menengok ke belakang sambil mendaku kedaulatan politik yang eksklusif, kita sendiri yang akan tertinggal. Dunia luar sudah bergerak cepat menuntut adaptasi dan kolaborasi, sementara kita malah terlena dengan angan-angan.

​Teuku Mahadiradja Rizki El-Sinki Pemerhati Sosial Dan Budaya Untuk Aceh dan Nusantara menyebutkan bahwa Hari ini kita jangan lagi bicara kedaulatan Aceh masa lalu. Alih-alih merajut keterasingan dengan memelihara mimpi tentang eksistensi mandiri yang sudah usang, energi kita harusnya dipakai untuk memikirkan bagaimana menyusun imajinasi Aceh ke depan.

Harus diakui, kedaulatan Aceh yang dulu digembor-gemborkan oleh Hasan Tiro lebih banyak berupa ilusi sejarah yang diproduksi berulang-ulang sampai akhirnya melekat menjadi memori kolektif.

Sejarah leluhur itu keren dan layak jadi bahan bakar moral, tapi bukan untuk alat retorika yang malah mempertanyakan fondasi keutuhan bangsa yang sudah kita sepakati Tegasnya Rizki

 

Persoalan Nyata yang Dihadapi Warga di Bawah

Kalau kita mau jujur melihat ke bawah, di tingkat warga sehari-hari, urusannya sama sekali bukan soal klaim politik yang abstrak.

 

Masalah yang benar-benar dirasakan di depan mata jauh lebih konkrit:

​1. Hoaks dan Rusaknya Literasi: Warga di kampung-kampung sekarang makin gampang jadi korban informasi palsu, bahkan yang dibikin pakai kecerdasan buatan (AI). Tanpa literasi digital yang kuat, akal sehat publik bakal terus diombang-ambingkan kepanikan yang tidak perlu.

​2. Korupsi dan Birokrasi yang Payah: Isu-isu soal “marwah” dan identitas daerah sering kali sengaja ditiupkan oleh segelintir elite cuma buat menutupi buruknya cara mereka mengurus pemerintahan. Ujung-ujungnya, pengentasan kemiskinan dan kesejahteraan rakyat malah terbengkalai.

​3. Kualitas SDM yang Tertinggal: Pembangunan daerah harusnya fokus membenahi pendidikan, teknologi, dan transparansi kerja pemerintah. Bukan malah sibuk terjebak dalam perdebatan politik identitas yang tidak bakal bisa jadi nasi di atas meja makan rakyat.

 

​Membangun Daerah dengan Siasat yang Bermartabat

​Sudah saatnya kita bicara dengan kepala dingin. Kedaulatan di zaman sekarang tidak lahir dari teriakan perlawanan yang sudah basi, melainkan dari dompet yang mandiri, informasi yang sehat, dan kecerdasan warga itu sendiri.

​Daerah yang kuat bukanlah daerah yang mau jalan sendiri atau mau memisahkan diri. Daerah yang hebat adalah yang bisa menjadi pilar paling kokoh buat menjaga keutuhan bangsa, pintar mengurus sistem, tegas melawan kebodohan, dan selalu menaruh kesejahteraan rakyat di urutan paling atas.