NEWSRBACEH I LHOKSEUMAWE – Perekonomian global pada 2026 diproyeksikan masih tumbuh sekitar 3,0 persen. Namun, prospek tersebut tetap menghadapi sejumlah risiko, mulai dari ketegangan geopolitik, gangguan rantai pasok, hingga perubahan arah kebijakan moneter negara-negara utama.
Hal itu disampaikan Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Lhokseumawe, Yudho Herlambang, saat memaparkan perkembangan ekonomi global berdasarkan materi Bank Indonesia, Jumat (14/8/2026).
Dalam paparan tersebut disebutkan, ketidakpastian global kembali meningkat seiring eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi itu berpotensi memengaruhi aktivitas perdagangan internasional serta kelancaran rantai pasok global.
Salah satu perhatian yang menjadi sorotan adalah jalur perdagangan di kawasan Selat Hormuz yang disebut belum sepenuhnya pulih. Gangguan pada jalur strategis tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap harga minyak dan sejumlah komoditas di pasar global.
Selain faktor geopolitik, perubahan kondisi moneter global juga menjadi tantangan. Kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury, misalnya, dapat meningkatkan tekanan terhadap arus modal menuju negara-negara berkembang.
Berdasarkan proyeksi dalam paparan Bank Indonesia, kelompok negara maju diperkirakan tumbuh 1,7 persen pada 2026. Amerika Serikat diproyeksikan tumbuh 2,3 persen, sementara kawasan Eropa dan Jepang masing-masing sebesar 0,7 persen.
Di sisi lain, negara-negara berkembang diperkirakan mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni sekitar 3,9 persen. China diproyeksikan tumbuh 4,6 persen, India 6,7 persen, sedangkan kelompok ASEAN-5 diperkirakan tumbuh 2,4 persen.
Proyeksi tersebut menunjukkan ekonomi global masih memiliki ruang untuk tumbuh di tengah berbagai tekanan eksternal. Namun, realisasi pertumbuhan tetap bergantung pada perkembangan geopolitik, stabilitas perdagangan dan rantai pasok, harga komoditas, serta arah kebijakan moneter negara-negara utama.
Bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, dinamika tersebut perlu menjadi perhatian karena perubahan kondisi global dapat memengaruhi perdagangan, harga komoditas, nilai tukar, serta pergerakan arus modal.
Dengan demikian, ketahanan ekonomi domestik dan kewaspadaan terhadap risiko eksternal menjadi faktor penting dalam menghadapi dinamika perekonomian global sepanjang 2026.







