NEWSRBACEH I ACEH UTARA – Paparan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pembakaran sampah, kendaraan bermotor, aktivitas industri hingga asap rokok dapat mengancam kesehatan paru-paru. Masyarakat diimbau lebih waspada dan mengambil langkah pencegahan untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan.
Peringatan tersebut disampaikan Dr. Ikhsan, M.Ked (Paru), Sp.P, FISR, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh Utara sekaligus Dokter Spesialis Paru RSUD Cut Meutia.
Menurutnya, asap mengandung partikel halus serta berbagai gas dan zat kimia berbahaya yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan tersebut berpotensi memicu peradangan pada saluran pernapasan dan menimbulkan gangguan kesehatan, terutama apabila terjadi secara terus-menerus.
“Udara bersih merupakan kebutuhan penting bagi kesehatan. Namun, paparan asap tidak boleh dianggap remeh karena dapat menyerang siapa saja, terutama kelompok rentan,” demikian penjelasan Dr. Ikhsan.
Ia menjelaskan, dampak paparan asap dapat berupa iritasi saluran pernapasan, batuk, tenggorokan terasa perih, sesak napas hingga memicu serangan asma. Bagi penderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), kondisi tersebut juga dapat memperburuk penyakit yang dialami.
Selain dampak jangka pendek, paparan polusi udara dalam jangka panjang juga berisiko mengganggu fungsi paru-paru.
Masyarakat Diminta Mengurangi Aktivitas di Luar Ruangan
Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, Dr. Ikhsan mengimbau masyarakat memantau informasi kualitas udara melalui sumber resmi. Ketika tingkat polusi meningkat, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi, terutama olahraga dan pekerjaan fisik yang berat.
Penggunaan masker yang sesuai, khususnya masker respirator seperti N95 atau KN95, juga dapat membantu mengurangi paparan partikel halus saat berada di luar ruangan.
Masyarakat juga dianjurkan menjaga kualitas udara di dalam rumah dengan menutup pintu dan jendela ketika asap pekat masuk ke lingkungan, serta menghindari aktivitas yang menghasilkan polusi tambahan di dalam rumah.
Perhatian khusus perlu diberikan kepada bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit paru dan penyakit kronis lainnya. Kelompok tersebut lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat paparan polusi udara.
Kenali Gejala dan Jangan Abaikan Tanda Bahaya
Dr. Ikhsan mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan setelah terpapar asap. Batuk berkepanjangan, sesak napas berulang, dan keluhan pernapasan lainnya perlu mendapatkan pemeriksaan medis.
Apabila mengalami sesak napas berat, nyeri dada, bibir kebiruan, atau penurunan kesadaran, masyarakat diminta segera mencari pertolongan medis.
Selain menghindari paparan asap, menjaga kesehatan paru-paru juga dapat dilakukan melalui kebiasaan hidup sehat, seperti berhenti merokok, menghindari asap rokok, mengonsumsi makanan bergizi, menjaga kebersihan rumah, serta berolahraga secara teratur ketika kualitas udara dalam kondisi baik.
Menjaga Udara Bersih Merupakan Tanggung Jawab Bersama
Lebih lanjut, upaya melindungi kesehatan paru-paru tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga membutuhkan kepedulian bersama.
Pencegahan kebakaran hutan dan lahan, tidak membakar sampah sembarangan, mengurangi sumber pencemaran, serta menjaga lingkungan merupakan langkah penting untuk menciptakan udara yang lebih sehat.
Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahaya paparan asap dan tidak menunggu munculnya gangguan kesehatan untuk mulai melakukan pencegahan.
Sebab, menjaga kualitas udara berarti turut melindungi kesehatan diri sendiri, keluarga, dan generasi mendatang.







