NEWSRBACEH I ACEH — KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin mendorong Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan perhatian lebih besar kepada perkembangan NU di luar Jawa. Menurut Gus Rozin, NU tidak boleh hanya kuat di pusat, tetapi harus tumbuh dan dirasakan manfaatnya hingga wilayah pedalaman, pelosok, dan daerah-daerah yang selama ini belum mendapatkan perhatian secara maksimal.
Gagasan tersebut disampaikan Gus Rozin dalam silaturahim bersama Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Aceh, Rabu (19/8/2026) di Banda Aceh. “Saya juga mengusulkan agar ke depan Ketua PBNU memberikan perhatian yang lebih besar kepada NU di daerah-daerah, khususnya wilayah pedalaman, pelosok, dan daerah-daerah yang selama ini mungkin belum mendapatkan perhatian secara maksimal,” kata Gus Rozin.
Menurut Ketua PWNU Jawa Tengah tersebut, pembangunan NU tidak seharusnya hanya berorientasi pada penguatan struktur di tingkat pusat. PBNU perlu memastikan keberadaan organisasi dan manfaat khidmah NU dapat dirasakan jamaah di berbagai wilayah Indonesia. “NU tidak boleh hanya kuat di pusat, tetapi juga harus tumbuh dan dirasakan manfaatnya hingga ke daerah-daerah,” ujar Gus Rozin.
Menurut Gus Rozin, putra almarhum KH MA Sahal Mahfudh, Rais ‘Aam PBNU periode 1999-2014, penguatan NU di daerah harus memperhatikan karakter dan kebutuhan masing-masing wilayah. Daerah-daerah di luar Jawa memiliki pengalaman, potensi, dan tantangan yang tidak selalu sama dengan wilayah yang selama ini menjadi pusat perkembangan NU.
Karena itu, PBNU ke depan diharapkan tidak hanya hadir melalui struktur organisasi, tetapi juga memperkuat pelayanan, kaderisasi, pendidikan, pesantren, serta potensi ekonomi masyarakat di daerah.
Pesantren dan Penguatan NU di Daerah
Gagasan tersebut mendapat respons dalam sesi diskusi. Rais Syuriyah PCNU Bener Meriah menyampaikan testimoni berdasarkan pengalamannya bersama Gus Rozin. Ia menggambarkan Gus Rozin sebagai sosok yang setia, baik, dan memiliki komitmen yang jelas.
Sementara itu, Rais Syuriyah PCNU Aceh Tengah menekankan bahwa NU harus dibangun dari akar utamanya, yakni pesantren. Ia kemudian menanyakan komitmen konkret Gus Rozin apabila nantinya mendapatkan amanah sebagai Ketua Umum PBNU dalam memperkuat dan mengembangkan pesantren.
Pertanyaan tersebut mendapat relevansi dengan rekam jejak Gus Rozin yang selama ini banyak bersentuhan dengan dunia pesantren. Bagi Gus Rozin, pesantren merupakan jantung NU, tempat ulama dilahirkan, kader ditempa, dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah diwariskan.
Khidmah Gus Rozin terhadap pesantren juga telah berlangsung dalam berbagai bentuk, mulai dari penguatan santri, transformasi pesantren, hingga advokasi kebijakan nasional.
Dalam periode 2014–2019, Gus Rozin terlibat dalam pengawalan lahirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Sebelumnya, ia juga terlibat dalam berbagai gerakan dan program penguatan pesantren dan santri, antara lain Liga Santri Nasional pada 2015–2019, Gerakan Ayo Mondok pada 2016, serta Hari Santri Nasional dan Apel Akbar Santri Nusantara pada 2018.
Pada 2019, Gus Rozin menjadi salah satu inisiator Gerakan Pesantrenku Bersih, Pesantren Keren. Ketika pandemi Covid-19 melanda, ia terlibat dalam Satkor Covid RMI PBNU pada 2020, sekaligus dalam Program Kado Lebaran untuk Guru Ngaji. Khidmah tersebut berlanjut melalui Gerakan Pesantren Asuh bagi Anak Yatim Indonesia pada 2021 dan Program Beasiswa LPDP untuk Santri pada tahun yang sama.
Jejak tersebut menunjukkan bahwa perhatian Gus Rozin terhadap pesantren tidak hanya ditempatkan sebagai agenda organisasi, tetapi telah menjadi bagian dari perjalanan khidmahnya selama bertahun-tahun.
Menurut Gus Rozin, memperkuat pesantren pada dasarnya merupakan bagian dari menjaga masa depan NU dan Indonesia. Pesantren harus terus didorong agar mampu berkembang dalam bidang pendidikan, sumber daya manusia, ekonomi, teknologi, dan bidang lainnya tanpa kehilangan karakter serta tradisi keilmuannya.
Pemerataan Khidmah hingga Luar Jawa
Bagi Gus Rozin, penguatan pesantren dan perhatian terhadap NU di daerah memiliki keterkaitan erat. Pesantren merupakan salah satu basis penting dalam menjaga tradisi keilmuan, kaderisasi, dan keberlanjutan NU di berbagai daerah.
Karena itu, Gus Rozin mendorong agar kepemimpinan PBNU mendatang tidak hanya melihat pembangunan organisasi dari perspektif pusat, tetapi juga mendengar kebutuhan struktur dan jamaah di daerah.
Menurutnya, penguatan NU harus berjalan dari bawah dengan memberikan ruang yang lebih besar bagi daerah untuk berkembang sesuai dengan potensi dan kebutuhannya.
Gagasan tersebut, kata Gus Rozin, perlu menjadi bagian dari arah perjuangan yang dibawa dalam Muktamar ke-35 NU. Muktamar tidak semata-mata menjadi forum memilih kepemimpinan baru, tetapi juga momentum untuk menentukan arah NU dalam beberapa tahun mendatang.
“Semoga Muktamar menjadi momentum untuk kembali memperkuat NU, memperbaiki apa yang perlu diperbaiki, melanjutkan apa yang sudah baik, dan membangun masa depan NU yang lebih mandiri, kuat, serta bermanfaat bagi umat, bangsa, dan negara,” ujar Gus Rozin.







