Search

20 Juli 2026

Menjaga Rimba, Mengawal Mandat, Sinyal Diplomasi Haji Uma untuk Beutong Ateuh

Redaksi

Anggota Komite I DPD RI asal Aceh, H. Sudirman, S.Sos., M.Sos

NEWSRBACEH I JAKARTA SELATAN — Forum Reformis Muda Aceh (FRMA) menggelar kegiatan Nonton Bareng (Nobar) dan diskusi bertajuk “Pawang Uteun Beutong Ateuh: Menolak Lupa, Menjaga Rimba” di Aula Wisma Taman Iskandar Muda, Jakarta Selatan, Sabtu (18/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung secara hybrid tersebut dihadiri mahasiswa, akademisi, serta aktivis lingkungan. Hadir sebagai pembicara utama Anggota Komite I DPD RI asal Aceh, H. Sudirman, S.Sos., M.Sos. atau yang akrab disapa Haji Uma.

Dalam forum itu, Haji Uma menegaskan komitmennya untuk mengawal aspirasi masyarakat adat Beutong Ateuh di tingkat nasional. Ia juga mendorong Pemerintah Aceh agar bersikap objektif dalam merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan kelestarian kawasan Beutong Ateuh yang merupakan bagian dari penyangga Ekosistem Leuser.

Menurut Haji Uma, aspirasi masyarakat adat merupakan suara yang harus dihargai dan didengar dalam setiap proses pengambilan kebijakan.

“Pembangunan yang baik bukanlah pembangunan yang mengorbankan rakyat dan alam, melainkan pembangunan yang mampu menjaga keduanya secara berkelanjutan. Hutan bukan hanya sumber ekonomi, tetapi sumber kehidupan. Jika hutannya lestari, masyarakatnya akan tetap hidup dengan bermartabat,” ujar Haji Uma.

Ia menambahkan, pemerintah perlu melihat secara langsung kondisi masyarakat adat yang selama ini bergantung pada kelestarian hutan.

“Kebijakan yang adil dari pemerintah tentu mensyaratkan objektivitas. Pemerintah harus melihat langsung bagaimana masyarakat adat sangat bergantung pada kelestarian hutan ini,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Haji Uma juga menyampaikan komitmen DPD RI untuk mengawal aspirasi masyarakat melalui sejumlah langkah, di antaranya membawa aspirasi masyarakat ke tingkat nasional, mendorong evaluasi terhadap izin pertambangan yang dinilai berpotensi menimbulkan persoalan sosial maupun lingkungan, serta mendukung pembangunan yang sejalan dengan prinsip keberlanjutan.

Sementara itu, FRMA melalui penyelenggaraan diskusi dan pemutaran film dokumenter berharap dapat meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap pentingnya menjaga kawasan Beutong Ateuh dan kelestarian hutan Aceh.

Diskusi yang berlangsung interaktif tersebut menghasilkan kesepahaman bahwa pelestarian Beutong Ateuh merupakan tanggung jawab bersama. Peserta menilai sinergi antara masyarakat, pemuda, akademisi, aktivis, dan pemerintah diperlukan dalam menjaga kawasan hutan yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat dan keanekaragaman hayati.

Kegiatan ditutup dengan ajakan untuk terus mengawal isu pelestarian Beutong Ateuh melalui ruang-ruang diskusi, edukasi, dan penyampaian aspirasi secara konstruktif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.