Search

4 Februari 2026

Mahasiswa Aceh Kirim Surat Solidaritas untuk Tahanan Politik di Indonesia

Redaksi

Mahasiswa Aceh Kirim Surat Solidaritas untuk Tahanan Politik di Indonesia

NEWSRBACEH I BANDA ACEH — Seorang mahasiswa asal Aceh, Misbah Hidayat, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Aceh, menyampaikan sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada seluruh tahanan politik di Indonesia yang hak-haknya dicabut oleh negara.

Surat tersebut ditulis sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan dan refleksi sejarah Aceh yang panjang dengan konflik, represi, serta perjuangan atas keadilan.

Dalam suratnya, Misbah menegaskan bahwa Aceh bukanlah wilayah yang asing dengan pengalaman kehilangan hak, pembungkaman suara, dan kekerasan struktural. Ia menyebut, pengalaman historis tersebut membuat masyarakat Aceh memiliki ikatan emosional yang kuat dengan mereka yang hari ini harus mendekam di balik jeruji penjara bukan karena tindak kriminal, melainkan karena perbedaan pandangan politik dan sikap kritis terhadap kekuasaan.

“Dari tanah Aceh yang pernah lama mengenal luka, kami mengirimkan salam, doa, dan ingatan,” tulis Misbah dalam suratnya. Ia menekankan bahwa pencabutan hak oleh negara tidak serta-merta menghapus martabat seseorang sebagai manusia merdeka.

Surat tersebut juga menyoroti praktik negara yang, menurut Misbah, kerap menggunakan hukum sebagai alat pembungkaman.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa ingatan rakyat dan nurani publik tidak pernah sepenuhnya bisa dikontrol oleh kekuasaan.

“Negara boleh membungkam, tetapi ingatan rakyat tidak pernah patuh. Negara boleh menutup ruang keadilan, tetapi nurani tidak bisa dipenjara,” tulisnya.

Sebagai mahasiswa, Misbah menyampaikan keyakinannya bahwa para tahanan politik bukanlah penjahat, melainkan saksi sejarah yang berani bersuara di tengah iklim ketakutan. Ia percaya bahwa suatu saat kebenaran akan menemukan jalannya dan sejarah akan mencatat keberanian mereka secara adil.

Surat itu ditutup dengan pesan penguatan dan harapan. Dari Aceh, yang disebutnya sebagai “tanah yang belajar berdamai tanpa melupakan,” Misbah menyampaikan bahwa para tahanan politik tidak sendirian, karena nama dan perjuangan mereka tetap hidup dalam percakapan, doa, dan ingatan rakyat.

“Meski keadilan sering datang terlambat, ia tidak pernah benar-benar hilang,” tulis Misbah Hidayat, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Aceh, dalam surat solidaritasnya.