NEWSRBACEH | LHOKSEUMAWE — Hujan turun tanpa ampun. Air meluap, jalan-jalan berubah menjadi sungai, dan kepanikan menyelimuti warga di sejumlah wilayah terdampak banjir.
Di tengah kondisi yang membuat banyak orang memilih bertahan demi keselamatan diri, seorang lelaki justru melangkah ke arah sebaliknya. Namanya Rafsanjani.
Jumat, 28 November 2025, menjadi hari yang tak akan ia lupakan. Saat badai menggulung kawasan Aceh dan akses antarwilayah nyaris terputus, panggilan kemanusiaan terdengar lebih keras dari rasa takut.
Dari kawasan Bayu, Gedong Pase, ia memutuskan menembus derasnya hujan menuju Madat wilayah yang dilaporkan terisolasi dan membutuhkan bantuan segera.
Perjalanan itu bukan tanpa risiko. Jalanan rusak, genangan air setinggi lutut hingga dada, serta cuaca yang terus memburuk membuat setiap langkah terasa seperti pertaruhan nyawa. Namun bagi Rafsanjani, mundur bukan pilihan.
“Ada rasa takut, tapi jauh lebih besar rasa tanggung jawab ketika tahu saudara-saudara kita sedang dalam kondisi darurat,” ujarnya kepada newsrbaceh.com, Senin (29/12/2025).
Dengan keterbatasan alat dan akses, ia tetap berusaha menjangkau warga yang terjebak. Bantuan darurat disalurkan sebisanya, sekadar untuk memastikan mereka tidak merasa sendirian menghadapi bencana.
Setiap langkah yang ia ambil bukan untuk mencari sorotan, melainkan menjawab panggilan nurani.
Sesampainya di lokasi, pemandangan pilu menyambutnya. Warga tampak kelelahan, sebagian sudah berhari-hari belum makan. Ada yang bertahan di atas atap rumah, menunggu air surut tanpa kepastian.
Tangis anak-anak, wajah cemas para orang tua, dan keheningan yang mencekam menjadi potret nyata penderitaan di tengah bencana.
“Melihat kondisi itu, hati saya hancur,” kata Rafsanjani lirih. “Tapi justru di situlah saya sadar, kehadiran sekecil apa pun bisa berarti besar bagi mereka.”
Tak hanya turun langsung ke lapangan, Rafsanjani yang juga dikenal sebagai Ketua Reborn NGO, terus menyuarakan kondisi terkini kepada publik. Melalui laporan berkala di media Newsrbaceh, ia memastikan informasi tentang situasi warga terdampak sampai ke masyarakat luas, agar bantuan bisa terus mengalir.
Di saat badai menguji ketahanan fisik dan mental, Rafsanjani memilih berdiri di barisan kemanusiaan. Ia membuktikan bahwa di tengah terjangan air dan gelapnya situasi, masih ada cahaya kepedulian yang tak pernah padam.
Kisahnya menjadi pengingat: ketika alam menguji manusia, nurani adalah kompas terakhir yang menuntun pada kemanusiaan.







