Search

1 Desember 2025

Beut Malam sebagai Warisan Budaya dan Pendidikan Islam: Antara Tradisi dan Tantangan Modernitas

admin

Muhammad Rizki Saputra | Mahasiswa asal Aceh, Program Magister UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

NEWSRBACEH I ACEH — Tradisi Beut Malam di Aceh bukan sekadar ruang belajar agama, melainkan bagian dari identitas kultural dan spiritual masyarakat yang kini tengah diuji oleh arus modernitas. Hal ini disampaikan oleh Muhammad Rizki Saputra, salah seorang mahasiswa asal Aceh yang saat ini sedang melanjutkan pendidikan Magister di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan pola hidup masyarakat, tradisi Beut Malam yang dahulu menjadi denyut kehidupan desa mulai mengalami pergeseran. Tradisi ini perlahan memudar, tergantikan oleh budaya digital yang semakin mengisi ruang interaksi dalam keluarga. Padahal, Beut Malam telah lama dikenal sebagai wadah pendidikan Islam yang membentuk karakter, moral, dan kesadaran sosial masyarakat Aceh.

Ruang Belajar dan Pembentukan Adab

Sejak dahulu, Beut Malam hadir sebagai lembaga pendidikan informal bagi anak-anak, remaja hingga orang dewasa. Kegiatan ini menjadi tempat belajar membaca Al-Qur’an, memahami akidah, serta menanamkan nilai-nilai adab di bawah bimbingan teungku (guree). Di dalamnya, para santri tidak hanya mempelajari ilmu agama, tetapi juga akhlak, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial.

“Beut Malam bukan hanya belajar kitab (Surah Kitab), tetapi menanamkan ruh islam serta adab dalam kehidupan sehari-hari. Ia adalah fondasi peradaban Islam yang tumbuh di bumi Aceh,” ungkap Muhammad Rizki Saputra, S.Pd., mahasiswa Program Magister UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Nilai-nilai ini menjadikan Beut Malam berfungsi sebagai sistem pendidikan tradisional sekaligus sarana pewarisan budaya Islam bagi masyarakat Aceh.

Tantangan Modernitas

Namun, di era modern saat ini, keberadaan Beut Malam menghadapi tantangan serius. Perubahan gaya hidup, penetrasi teknologi digital, hingga berkurangnya peran Balee Seumeubeut (tempat pengajian) membuat tradisi ini mulai kehilangan daya tarik di kalangan generasi muda.

Banyak keluarga yang lebih mengutamakan pendidikan formal, sementara nilai-nilai spiritual dan sosial yang dahulu terbangun melalui Beut Malam semakin terpinggirkan.

Perubahan ini mencerminkan bagaimana modernitas membawa dampak pada pola pikir dan perilaku masyarakat. Tantangannya bukan hanya mempertahankan tradisi, tetapi bagaimana membuat tradisi tersebut tetap relevan tanpa menghilangkan esensinya.

Revitalisasi dan Harapan

Upaya pelestarian Beut Malam dinilai perlu dilakukan secara kolaboratif antara masyarakat, ulama, lembaga pendidikan, hingga pemerintah. Langkah revitalisasi dapat dilakukan dengan mengintegrasikan Beut Malam dalam kegiatan keagamaan remaja, mengembangkan konten edukasi digital, dan mendokumentasikan praktik serta sejarah tradisi ini sebagai bentuk pelestarian warisan budaya.

Pelestarian tersebut bukan hanya bentuk kerinduan terhadap masa lalu, tetapi sebuah upaya menanamkan kembali nilai kesederhanaan, kebersamaan, dan spiritualitas dalam kehidupan masyarakat modern. Di tengah derasnya arus globalisasi, Beut Malam merupakan jangkar moral yang memperkuat identitas Aceh sebagai “Nanggroe Seuramoe Mekkah”.

Sebagaimana pelita di malam hari, tradisi ini akan terus memberi cahaya selama masih ada generasi yang mau menjaganya agar tidak padam.

(Penulis: Muhammad Rizki Saputra | Mahasiswa asal Aceh, Program Magister UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)