NEWSRBACEH | BLANGPIDIE — Kasus kehilangan sandal jamaah di Masjid Agung Baitul Ghafur Blangpidie kembali menjadi sorotan publik. Peristiwa yang berulang itu dinilai bukan lagi insiden sepele, melainkan persoalan serius yang perlu segera ditangani Badan Kemakmuran Masjid (BKM), mengingat masjid tersebut merupakan ikon daerah di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).
Kali ini, kehilangan sandal dialami Bujang, 43 tahun, warga Kuala Batee, seusai melaksanakan shalat Tarawih berjamaah pada Minggu malam (22/2/2026). Ironisnya, bukan hanya sandal miliknya yang hilang, tetapi juga sandal anaknya. Keduanya terpaksa pulang tanpa alas kaki dari masjid.
“Saya kaget saat keluar masjid, sandal saya dan anak saya sudah tidak ada. Akhirnya kami pulang tanpa sandal,” kata Bujang kepada wartawan, Minggu malam.
Bujang mengaku sempat melaporkan kejadian tersebut kepada petugas keamanan masjid. Namun, ia menilai penanganan kehilangan sandal di lokasi itu belum maksimal. “Saya sudah sampaikan ke sekuriti, tapi mereka juga mengakui agak kesulitan menangani kasus seperti ini,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan jamaah lain. Rahmat, warga Blangpidie, mengatakan kehilangan sandal di masjid tersebut bukan hal baru. Ia bahkan mengaku sudah dua kali menjadi korban saat melaksanakan shalat Jumat.
“Sudah dua kali sandal saya hilang di sini. Ini bukan kejadian pertama,” kata Rahmat.
Maraknya kasus kehilangan sandal itu memunculkan desakan agar pengelola masjid segera melakukan pembenahan sistem pengamanan barang jamaah. Risma, warga Blangpidie, menilai BKM perlu menyediakan fasilitas penitipan sandal dan sepatu seperti yang diterapkan di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.
“Sudah sepantasnya ada tempat penitipan sandal dan sepatu. Apalagi ini masjid ikon daerah, jadi pelayanannya juga harus lebih tertata,” ujar Risma.
Ia menegaskan, persoalan tersebut tidak boleh dianggap sepele karena berpotensi mencoreng citra masjid, terutama bagi musafir atau tamu dari luar daerah yang beribadah di sana. Menurutnya, pengalaman kehilangan barang dapat meninggalkan kesan negatif terhadap pengelolaan masjid.
“Kalau yang kehilangan itu tamu dari luar Abdya, tentu akan meninggalkan image negatif terhadap Masjid Agung Baitul Ghafur,” katanya.
Sejumlah jamaah berharap pengelola masjid segera mengambil langkah konkret, mulai dari penambahan petugas hingga sistem penitipan barang, agar kasus kehilangan sandal dapat diminimalisir. Mereka menilai kenyamanan dan keamanan jamaah merupakan bagian penting dari pelayanan rumah ibadah.
“Harapannya ada petugas khusus penitipan sandal atau sepatu, sehingga jamaah bisa beribadah dengan tenang tanpa khawatir kehilangan barang,” ujar Risma.[]







