Search

14 Oktober 2026

BMKG Bekali 102 Nelayan Lhokseumawe Pengetahuan Cuaca Maritim, Cucu: Keselamatan Harus Jadi Prioritas

Redaksi

BMKG Bekali 102 Nelayan Lhokseumawe Pengetahuan Cuaca Maritim. 14-1-2026.

NEWSRBACEH I LHOKSEUMAWE – Sebanyak 102 nelayan, penyuluh perikanan, dan pemangku kepentingan terkait mengikuti Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) Tahun 2026 yang diselenggarakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Aula Wali Kota Lhokseumawe, Rabu (14/10/2026).

Kegiatan ini menjadi salah satu upaya BMKG meningkatkan literasi cuaca dan iklim maritim bagi masyarakat nelayan, khususnya dalam memahami perubahan kondisi cuaca, mengenali potensi bahaya di laut, serta menentukan waktu melaut dengan lebih aman.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, Cucu Kusmayancu, S.Kom., mengatakan BMKG secara berkelanjutan memberikan informasi meteorologi, termasuk informasi cuaca dan iklim untuk mendukung berbagai sektor kehidupan masyarakat.

Melalui pelaksanaan SLCN di Kota Lhokseumawe, BMKG ingin memastikan informasi cuaca maritim dapat dipahami dan dimanfaatkan langsung oleh para nelayan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Ia berharap pengetahuan yang diberikan dapat membantu nelayan menjalankan aktivitas melaut dengan lebih aman, nyaman, dan sehat, sekaligus mendukung hasil tangkapan yang optimal.

Cucu juga mengingatkan bahwa kondisi cuaca dapat berubah dengan cepat. Karena itu, nelayan membutuhkan edukasi dan pemahaman yang memadai agar mampu mengantisipasi berbagai kemungkinan perubahan cuaca sebelum memutuskan berangkat ke laut.

Menurutnya, pemahaman terhadap informasi cuaca bukan sekadar pengetahuan tambahan, melainkan bagian penting dari upaya melindungi keselamatan nelayan.

Pembukaan kegiatan tersebut diikuti Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Dr. Andri Ramdhani, M.Si., secara daring melalui Zoom, serta dihadiri jajaran BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh.

Sementara itu, Pemerintah Kota Lhokseumawe diwakili Plt. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah, Abdul Hadi, S.E., M.Si. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada BMKG atas penyelenggaraan program tersebut.

Menurut Abdul Hadi, kegiatan SLCN merupakan langkah penting untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan nelayan dalam menghadapi perubahan cuaca serta kondisi perairan.

Ia menjelaskan, sektor kelautan dan perikanan memiliki peran penting bagi perekonomian Kota Lhokseumawe dan menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga di kawasan pesisir.

Namun, aktivitas melaut memiliki risiko yang tidak ringan. Gelombang tinggi, angin kencang, arus laut, hujan lebat, hingga perubahan cuaca secara tiba-tiba dapat mengancam keselamatan nelayan.

“Keberanian dan pengalaman saja tidak cukup. Nelayan juga perlu memahami informasi meteorologi maritim agar dapat mengambil keputusan yang tepat sebelum melaut,” demikian pesan dalam sambutan Pemerintah Kota Lhokseumawe.

Abdul Hadi menegaskan, keselamatan harus menjadi prioritas utama. Nelayan diharapkan tidak memaksakan diri berangkat ke laut apabila kondisi cuaca tidak memungkinkan.

Ia juga mengajak nelayan membiasakan diri memeriksa prakiraan cuaca melalui kanal resmi BMKG sebelum melaut, memastikan perlengkapan keselamatan tersedia dan berfungsi, serta menjaga komunikasi dengan keluarga maupun kelompok nelayan.

Dalam laporan penyelenggaraan disebutkan, SLCN 2026 juga memiliki keterkaitan dengan upaya memperkuat ketangguhan masyarakat, termasuk mendukung pemulihan sosial dan ekonomi pascabencana di wilayah Aceh.

Hal ini penting mengingat sektor perikanan tangkap merupakan salah satu bidang yang rentan terdampak cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi. Peningkatan pemahaman cuaca diharapkan dapat membantu nelayan mengurangi risiko kecelakaan sekaligus merencanakan aktivitas penangkapan ikan secara lebih efektif.

Selama kegiatan yang berlangsung satu hari tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai pengenalan dan pemahaman informasi cuaca serta iklim maritim, cara mengakses dan membaca prakiraan cuaca, pengamatan meteorologi maritim, hingga pengenalan Siklon Senyar.

Melalui pembekalan tersebut, nelayan diharapkan mampu memanfaatkan informasi BMKG sebagai salah satu dasar pertimbangan sebelum melaut, bukan hanya mengandalkan pengalaman dan tanda-tanda alam.

Pengetahuan yang diperoleh juga diharapkan dapat disebarluaskan kepada nelayan lainnya sehingga semakin banyak masyarakat pesisir yang memahami pentingnya informasi cuaca dalam aktivitas penangkapan ikan.

Sinergi BMKG dan Pemerintah Kota Lhokseumawe tersebut diharapkan dapat memperkuat budaya keselamatan melaut, melindungi jiwa nelayan, serta mendukung keberlanjutan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Iklan adv
Iklan iklan
Iklan Iklan
Iklan iklan
Iklan Iklan
Iklan advt
Iklan adv
Iklan adv
Iklan adv
Iklan HUT ke 4
Iklan Hari Kesaktian Pancasila

Trending