Search

27 September 2026

Ayahwa Bupati Serahkan Penghargaan kepada 9 Mantan Ketua Umum IPAU Sejak 1980

Redaksi

Ayahwa Bupati Serahkan Penghargaan kepada 9 Mantan Ketua Umum IPAU Sejak 1980

NEWSRBACEH I BANDA ACEH – Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil SE MM (Ayahwa), menyerahkan penghargaan kepada sembilan mantan Ketua Umum Ikatan Pemuda Aceh Utara (IPAU) dari masa ke masa sejak tahun 1980, pada pembukaan Mubes ke-XI IPAU di Banda Aceh. Anjong Mon Mata Pendop Gubernur Aceh, Jumat 25 September 2026

Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi, kontribusi, dan peran strategis para pendahulu dalam menjaga kebersamaan serta membangun solidaritas masyarakat Aceh Utara di perantauan.

Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan bahwa peran para mantan ketua sangat penting dalam merawat nama baik daerah serta memperkuat jejaring sosial kemasyarakatan.

“Seyogyanya penghargaan ini diberikan sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi nyata dalam membangun kebersamaan masyarakat Aceh Utara,” ujarnya.

Adapun sembilan tokoh yang menerima penghargaan tersebut yakni mulai Drs. H.T. Alamsyah Banta (Alm) (1980-1992), Ir. H. Taufik MS, SU (Alm) (1992-1997), Drs. H. Saidan Nafi, SH, M.Hum (1997-2002), Prof. Dr. Apridar, SE, M.Si (2002-2006), Zulhadi, S.Pd, M.Pd (2006-2011), Sayuti M. Nur (2012-2015), Mukhsin Rizal, S.Hum, M.Ag (2015-2018), Saifullah, S.Hum, M.A (2018-2021), dan Rifki Ismail, S.Ag., M.Pd (2022-2025).

Ketua Umum IPAU, Rifki Ismail SAg MPd, dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa perjalanan panjang organisasi tidak terlepas dari kontribusi para pendahulu.

Ia juga menegaskan bahwa IPAU adalah “rumah bersama” yang dibangun atas nilai kebersamaan dan kekeluargaan, serta terus beradaptasi dengan dinamika sosial dan politik. Ia turut menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan selama masa kepengurusan.

“IPAU hadir sebagai ruang belajar dan pengabdian. Kami berharap dukungan semua pihak agar organisasi ini terus berkembang dan memberi manfaat,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan diskusi publik pembangunan daerah yang melahirkan rekomendasi strategis, termasuk penguatan lembaga adat, pembangunan berbasis masyarakat, serta peningkatan perhatian terhadap pendidikan generasi muda Aceh Utara.[]