NEWSRBACEH I LHOKSEUMAWE – Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Aceh memperingati Milad ke-7 melalui kegiatan Next Gen Energi Aceh yang berlangsung di VIP Room Royal Coffee Space, Lhokseumawe, Selasa (20/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi, diskusi, dan penguatan peran generasi muda dalam mendukung pembangunan sektor energi di Aceh.
Kegiatan yang diikuti 67 peserta tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari tokoh daerah, organisasi kepemudaan, mahasiswa, pemuda, hingga perwakilan industri. Momentum ini sekaligus menjadi refleksi perjalanan DEM Aceh sejak berdiri pada 20 Oktober 2019 dalam mendorong keterlibatan generasi muda pada sektor energi.
Presiden DEM Aceh, Faizar Rianda, mengatakan bahwa Milad ke-7 bukan sekadar momentum untuk memperingati bertambahnya usia organisasi, tetapi juga menjadi kesempatan untuk merefleksikan perjalanan, kontribusi, dan komitmen DEM Aceh dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan sektor energi.
“Sejak berdiri pada 20 Oktober 2019, DEM Aceh telah melalui berbagai proses dan pengalaman. Mulai dari seminar energi, Sekolah Kepemudaan Energi, pengabdian lingkungan, berbagai perlombaan, hingga ruang diskusi dan kolaborasi bersama para pemangku kepentingan. Semua itu menjadi bagian dari upaya kami membuka ruang belajar dan memperluas keterlibatan anak muda dalam sektor energi,” ujar Faizar.
Menurutnya, Aceh memiliki potensi sumber daya energi yang besar. Namun, potensi tersebut harus diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.
“Bagi DEM Aceh, energi bukan hanya tentang minyak dan gas bumi atau besarnya potensi sumber daya alam yang kita miliki. Energi juga berbicara tentang manusia, pengetahuan, keberanian, dan masa depan. Sebesar apa pun potensi energi Aceh, semuanya membutuhkan sumber daya manusia yang siap mengelola, mengembangkan, dan memastikan manfaatnya dirasakan oleh masyarakat,” katanya.
Faizar menegaskan bahwa melalui semangat Geutanyoe Muda, Geutanyoe Energi, DEM Aceh ingin mendorong mahasiswa dan pemuda agar tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan sektor energi di daerahnya sendiri, tetapi mampu mengambil peran strategis melalui peningkatan kompetensi, penguasaan pengetahuan, dan keterlibatan dalam dunia industri maupun kebijakan energi.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para founder, mentor, senior, seluruh pengurus, perusahaan sektor energi, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), akademisi, serta mitra yang selama ini telah mendukung perjalanan DEM Aceh.
“Organisasi tidak hanya diukur dari seberapa banyak kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang diberikan dan seberapa banyak generasi muda yang berhasil dipersiapkan. Kami berharap DEM Aceh terus menjadi ruang tumbuh bagi anak muda untuk belajar, membangun jejaring, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan energi,” tambahnya.
Dalam kegiatan tersebut, Anggota DPD RI asal Aceh, Haji Sudirman Haji Uma, M.Sos., menyampaikan pentingnya optimalisasi pengelolaan sumber daya alam Aceh yang disertai peningkatan kualitas sumber daya manusia, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan sinergi antara pemerintah, industri, dan masyarakat.
Sementara itu, Founder DEM Aceh, Royhan, menekankan pentingnya peran strategis pemuda dalam pengembangan sektor energi. Peningkatan kapasitas, kompetensi, dan pengetahuan generasi muda dinilai menjadi bagian penting dalam mempersiapkan tenaga profesional, inovator, dan pelaku usaha yang mampu berkontribusi bagi kemajuan sektor energi Aceh.
Dalam sesi diskusi, Rahmad Baihaqi dari MPI Kota Lhokseumawe yang juga berlatar belakang kontraktor membahas pentingnya kemudahan investasi, kepastian usaha, serta kesiapan tenaga kerja lokal dalam mendukung pertumbuhan industri energi. Pengalaman PT Arun pada masa kejayaannya turut menjadi pembelajaran mengenai peran strategis industri energi dalam menggerakkan perekonomian dan membuka lapangan kerja di Lhokseumawe.
Diskusi tersebut menegaskan bahwa pembangunan sektor energi Aceh membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Selain pengelolaan sumber daya alam dan iklim investasi yang kondusif, peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal serta kolaborasi antara pemerintah, industri, perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, dan masyarakat menjadi faktor penting untuk mendorong manfaat ekonomi yang lebih luas.
Koordinator Harian DEM Aceh, Mulyadi, S.Pd., turut menekankan pentingnya menjaga soliditas organisasi dan keberlanjutan gerakan pemuda energi di Aceh. Menurutnya, perjalanan tujuh tahun DEM Aceh merupakan hasil dari kebersamaan, kerja kolektif, dan dukungan berbagai pihak.
Ia berharap momentum milad menjadi pengingat bagi seluruh pengurus untuk terus menjaga semangat pengabdian, memperkuat kolaborasi, dan menghadirkan program yang memberikan dampak nyata bagi mahasiswa serta masyarakat.
“Perjalanan tujuh tahun ini bukan hanya tentang apa yang telah kita lakukan, tetapi juga tentang apa yang akan kita teruskan. Kepengurusan boleh berganti, tetapi semangat perjuangan dan persaudaraan harus tetap terjaga. Kita ingin DEM Aceh terus menjadi ruang bagi anak muda untuk belajar, berkembang, dan mengambil peran dalam pembangunan energi Aceh,” ujarnya.
Sebagai bagian dari rangkaian peringatan Milad ke-7, kegiatan juga diisi dengan pemotongan tumpeng sebagai ungkapan rasa syukur atas perjalanan organisasi serta pemberian santunan kepada anak yatim sebagai wujud kepedulian sosial dan komitmen DEM Aceh untuk berbagi manfaat dengan masyarakat.
Memasuki usia ketujuh, DEM Aceh berharap program Next Gen Energi Aceh dapat terus dikembangkan sebagai ruang peningkatan kapasitas, kepemimpinan, pengetahuan, dan kompetensi generasi muda dalam menghadapi dinamika industri serta tantangan energi masa depan.
Melalui momentum ini, DEM Aceh menegaskan komitmennya untuk terus tumbuh sebagai wadah kolaborasi dan pengembangan generasi muda, sekaligus mendorong keterlibatan mahasiswa dan pemuda dalam mewujudkan pengelolaan energi Aceh yang berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Turut hadir perwakilan PT Perta Arun Gas (PAG), pengurus KNPI, mahasiswa, pemuda, serta perwakilan berbagai organisasi kepemudaan dan unsur lainnya. Secara keseluruhan, kegiatan ini diikuti oleh 67 peserta.
Geutanyoe Muda, Geutanyoe Energi. Tujuh tahun perjalanan, satu semangat perjuangan, untuk masa depan energi Aceh.







